Home » , , » Reparasi Cerpen edisi 4: MENCARI MIMPI

Reparasi Cerpen edisi 4: MENCARI MIMPI

Written By Lalu Razieb Ariaharfi on Rabu, 07 Desember 2016 | 00.07

Gambar Cerpen

Oleh: Ratinie Fatmawati

Terpatung dalam bentangan ilalang yang tersapu angin, di bawah temaram senja Razi menatap langit. Segumpal kabut rekah mengintai di balik kerumun binatang malam yang mulai menyebar penuhi kawasan sawah. Dua puluh tahun silam, memori terkuak bersama cahaya kunang-kunang berhambur lepas ke angkasa. Kini Razi bertengger kembali, menjajaki puing-puing badai yang pernah menghempasnya.

Menilik rasa kelam yang punah terpelanting, membaurkan kasih bersama Rama, Biyung dan saudaranya. Menjadikan kekerdilannya bangkit dan tegak menerjang hembusan angin.

"Langkahku terpatri, semakin keras Kau mengguncangku, semakin tegak kakiku berdiri!" Bisik Razi menantang mimpi.

Razi hidup dari keluarga sederhana di sebuah kampung terpencil di pinggiran hutan. Dari tiga bersaudara, dia anak terkecil dan memiliki keunikan tersendiri. Razi, si bungsu dengan kelemahan yang jauh beda dengan lainnya sehingga sering dikucilkan.

Karena kekurangannya, Biyung meminta Razi untuk tetap di rumah. Membantu menyiapkan pekerjaan sehari-hari. Jika panen jagung tiba, mereka bekerja keras. Menuai hingga mengeringkannya untuk di simpan di lumbung. Itu adalah salah satu cara mereka menyimpan makanan untuk persiapan masa paceklik. Mereka berlomba-lomba mengusung tembolok dari kebun ke lumbung yang dibuat cukup tinggi oleh Rama.

"Ayo Razi sedikit lagi kamu pasti bisa!!" Teriak Biyung ketika melihat anak bungsunya kesusahan menaruh jagung ke dalam lumbung.

"Iiiaattt! Razi jatuh, Razi jatuh ...!" Suara Bayu diikuti Nuri terus mengejek, membuat Razi emosi.

Kedua Kakaknya sering membuat Razi kewalahan. Akal bulus atau sekadar ingin mengerjainya, namun kadang berlebih. Keterlaluan. Rama sudah pun menasehati tapi mereka tidak mau mendengar. Terlebih Bayu, dia tidak main-main jika pasang perangkap. Dari situ Razi semakin kuat dan pemberani. Namun itu tidak cukup membuat mereka berhenti. Hanya untuk menjaga dirinya, maka Razi selalu siaga.

Suatu hari Razi mendapat giliran untuk menjaga lumbung yang berada di pinggir sungai. Dia pun sudah sedia dengan perangkap baru. Dipasang sebuah tali jerat supaya jika ada sesiapa ingin masuk ke lumbung, maka tali akan tertarik dan mengikat mangsa.

Ini kali pertama dia menjalankan tugas. Takut juga was-was. Semalaman sendiri di tepi hutan dan sungai besar membuat nyali Razi ciut. Jika terdengar sedikit suara dia segera siaga. Sampai ketika dia terlelap dan,

"Aauuchh, wwooii siapa?!" Teriak Razi ketika tertimpuk batang jagung yang di lempar dari dalam lumbung. Dia segera memeriksa.

"Ternyata kamu yang selama ini mencuri jagungku. Awas ya, kali ini kamu nggak bakal bisa lari!" Dengan amarah yang menggebu ketika Razi melihat seekor beruang tengah asik memakan jagung. Dia sedia dengan perangkap yang sudah dipasang. Namun yang terjadi diluar dugaan,

"Gggrrrr ...," beruang hutan berbalik menyerang. Razi ketakutan dan melepasnya pergi. Jala yang terpasang sia-sia belaka.

Rama datang tepat ketika Razi membiarkan buruannya berlalu begitu saja. Dia tidak peduli meski Rama memarahinya. "Ayo, kejar sampai dapat beruang itu! Lelaki tidak boleh takut!" Seru Rama. Razi hanya menurut, mengikutinya dari belakang masuk ke tengah hutan.

Biyung yang cemas memikirkan keadaan Razi dari semalam sampai matahari hampir sepenggalah belum juga pulang. Di tambah Rama yang berniat menyusulnya, namun juga tiada kabar. Padahal waktu makan tengah hari sebentar lagi tiba. Mereka bertiga menunggu Razi dan Rama sampai waktu makan tiba.

"Ke mana mereka? Kenapa sampai sekarang tak kunjung tiba. Nuri coba kamu susul ke lumbung lepas makan nanti." Biyung menumpahkan kecemasaannya.

"Tapi Biyung, mereka kan tahu jalan pulang. Paling Razi buat ulah lagi." Nuri menyangkal dan mengendahkan arahan Biyung.

Di tengah hutan, saat Rama terus menyuruh Razi bergerak dan meneruskan perjalanan meski lelah telah menguras tenaga mereka. Tepat di depan sungai yang ujungnya mengalir ke tepi lumbung, mereka harus menyebranginya untuk mencapai jalan selanjutnya. Saat itu sungai masih mengalir normal. Ketika tiba-tiba datang gemuruh badai dari ketinggian,

"Razi, cepat naik ke atas! Cepaatt!!" Rama terus mendorong tubuh Razi yang makin lemah.

"Rama, aku nggak kuat. Rama lari dulu, larii ... Raammaaa!!" Tiada waktu bagi mereka berdua untuk lari. Sedang arah jalan dari penyebrangan terus menelusuri lereng di tepi sungai. Ketika banjir bandang menerjang dan Rama terhempas setelah mendorong Razi naik ke tempat yang lebih tinggi.

"Anakku, jika pada waktunya tiba dan aku harus pergi dulu tolong titip jaga mereka. Surgamu, beliau yang selama ini mengalirkan darahnya padamu, yang buatmu mampu berdepan dengan kejamnya dunia. Dan sosok keras di sekelilingmu, itu hanya mengajarkanmu sebuah kekuatan bukan karena benci namun karena mereka sayang denganmu." Pesan Rama sebelum mereka pergi menerobos hutan.

"Jika indah tak mampu kuhadiahkan, dan resah bergelayut sepanjang kita tumpahkan harapan, janganlah bulir-bulir bening kau teteskan hanya karena merasa tidak mampu merangkul tanggung jawab. Dan yang paling penting bersyukur apapun nikmat-Nya."

Razi menangis mengingat semua pesan Rama, dan akhirnya tak sadarkan diri. Tenaga yang habis untuk menempuh perjalanan dan bukan hasil yang mereka dapat namun badai, keganasan banjir yang mengaliri sungai cukup besar itu membuat Razi lemas setelah terpental dan berpisah dengan Rama.

***

Perjalanan yang sangat menyayat. Setelah sekian tahun Razi pergi dari rumah dan sampai detik ini. Semua sudah tiada dan hanya puing yang menandakan keutuhan sebuah kenangan silam. Ketika pada suatu senja Rama menunjukan arti hidup yang sebenar. Dari sebuah kunang-kunang yang penuhi bentangan sawah, tawa Razi dan Rama terukir. Sehingga kini dan selamanya akan abadi sampai di syurga.

Punggol, 18 November 2016

***

KESIMPULAN REPARASI CERPEN BERDASARKA POINT DISKUSI

1.    EBI

  • Paragraf pertama dan kedua yang puitis terasa jomplang ke paragraf berikutnya. Menurutku serba nanggung, kalau mau puitis lakukan secara keseluruhan, kalaupun kata-kata puitisnya untuk urusan estetika, kok menurutku rancu: megah tapi seperti tanpa makna dan diksinya banyak yang nggak sinkron.
  • Sebaiknya di narasi penyebutan Rama dan Biyung tidak pakai kapital, Kakaknya juga tidak kapital.
  • Yang perlu diperhatikan, naratornya siapa; kalau tokoh atau orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengan tokoh, penyebutan Rama, Biyung, Kakak bisa kapital.
  • Rama dan Biyung biasanya sebutan untuk ayah dan ibu untuk daerah tertentu yang jelas jauh dari perkotaan. Nah, tentu para tokoh bersikap, berucap harus disesuaikan dengan setting tempat. Akan tetapi, narasi puitis dalam terita ini kurang sesuai, apalagi dialog dan wejangan yang disampaikan oleh seorang rama.
  • ‘Dua puluh tahun silam, memori terkuak bersama cahaya kunang-kunang berhambur lepas ke angkasa. Kini Razi bertengger kembali, menjajaki puing-puing badai yang pernah menghempasnya'
  • Secara logika, kunang-kunang tidak akan muncul ketika masih senja, walaupun matahari sudah tenggelam, tetapi masih menyisakan warna merah di langit (hal ini saya logikakan dengan masih terlihatnya bentangan ilalang, artinya masih ada cukup cahaya untuk mengetahui dan melihat).
  • 'Razi bertengger...', kok saya merasa aneh ketika 'bertengger' disematkan dalam kalimat ini ya?
  • Sebenarnya yang ingin dilukiskan suasananya ataukan sekedar mengejar keindahan kalimat?
  • 'Menilik rasa kelam yang punah terpelanting, membaurkan kasih bersama Rama, Biyung dan saudaranya. Menjadikan kekerdilannya bangkit dan tegak menerjang hembusan angin. '
  • Jujur saya tambah bingung ketika mencoba melogikakan 'punah terpelanting' dalam kalimat di atas. Puna --> terpelanting, apakah bisa?
  • Kemudian, 'kekerdilannya bangkit dan tegak...', yang dimaksud 'kekerdilannya' pada kalimat ini apa ya? Apakah tubuh Rama yang, maaf, kerdil atau perasaannya? JIka melihat kalimatnya, saya malah mengartikan ini, perasaannya yang tegak, bangkit. Artinya Rama malah semakin merasa rendah diri, tidak percaya diri atau bahkan putus asa.
  • 'Suatu hari Razi mendapat giliran untuk menjaga lumbung yang berada di pinggir sungai. Dia pun sudah sedia dengan perangkap baru. Dipasang sebuah tali jerat supaya jika ada sesiapa ingin masuk ke lumbung, maka tali akan tertarik dan mengikat mangsa.'
  • Jika saja, ini menurut pendapat pribadi, tidak menggunakan 'Suatu hari...', tetapi latar waktunya adalah ' Hari ini...', saya merasa akan ada pijakan untuk mencapai klimak dari cerpen.
  • Dalam drama, unsur dramatik harus benar-benar dibangun dari awal untuk mencapai puncak dramatik sebuah penggarapan.
  • Mengendahkan ---> mengindahkan.
2.    Tema
  • Tema cukup menarik. Hanya ceritanya perlu dikembangkan lagi agar tidak nanggung.
3.    Setting
  • Setting lebih diperjelas lagi deskripsinya. Mungkin harus lebih dijelaskan lagi kekurangan Razi itu apa dibanding saudara-saudaranya. Mungkin masih terlalu pendek ceritanya. Bagus lebih diurai lagi ada apa sebenarnya dengan kehidupan razi, saudara, biyung dan Rama.
4.    Alur
  • Maju mundur.
5.    Karakter
  • Karakter tokoh Razi kurang kuat. Dia selemah apa? Apa kekurangannya?
6.    Gaya penulisan
  • Sudah bagus, perlu dipertahakan dan ditingkatkan.
7.    Genre
  • Menurutmu apa?
8.    Saran
  • Mungkin untuk paragraf yang puitis di awal, menurut saya bisa sekalian saja dibikin puisi di awal. Kalau paragraf full puitis menurut saya jadi agak bingung memahaminya.
  • Karena kata-katanya yang sudah puitik, aku terlanjur mengharapkan di dalam kalimat langsungnya pun tetap menggunakan kata-kata baku, misalnya “tidak” untuk menggantikan kata “enggak”... jadi puitiknya tetap “berasa” sampai ke ujung.
  • Lebih dijelajah lagi ceritanya, diperbanyak keterangan karakternya, dan latar belakang konfliknya.
  • Perpanjang lagi , supaya tidak seperti masih haus, eh, airnya sudah habis.
  • Ganti judul karena judul dengan isi kurang berkaitan.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar