Home » , , » Reparasi Cerpen Edisi 1: Ta’aruf Berbuah Tunangan

Reparasi Cerpen Edisi 1: Ta’aruf Berbuah Tunangan

Written By Lalu Razieb Ariaharfi on Jumat, 23 Desember 2016 | 19.54

Reparasi Cerpen


oleh : Moh Khozah Sefta El-Ozay 
Sesuatu yang terindah biasanya datang dengan tidak direncanakan, dan tidak terduga, pada hari senin pagi aku belanja buku yang terletak di jantung kota, bertemu dengan perempuan berwajah bersih serta balutan krudung meng indahkan siapa saja yang melihatnya termasuk aku sendiri yang sama sama mencari buku, ketika aku hendak mengambil buku yang aku sukai perempuan itu ada di sampingku menyodorkan tangannya ke buku yang aku ambil, sesaat bersamaan perempuan itu menoleh kepadaku lalu tersenyum dan pindah pada rak lain sambil tersenyum kecil dan aku melanjutkan buku yang aku ambil kemudian mencari satu buku lagi untuk di jadikan refrensi penulisan buku terbaruku yang sedang di susun, ketika aku berdiri di rak yang lain permpuan itu ada di depanku sama-sama mencari buku sambil tersenyum aku pun membalasnya sambil mengambil buku yang aku cari, setelah aku menemukan buku yang aku cari aku pun mendekati perempuan yang sibuk mencari buku yang di inginkan.

“ mencari buku apa dik..” tanya aku walaupun aku belum mengenalnya

“ Novel terbaru adi karya mbak asma nadia kak..” jawab perempuan sambil mencari buku yang di maksud

“ memang judulnya apa dik...” lanjut aku bertanya

“ Impian Pesantren yang baru saja di filmkan ” jawabnya cerdas

“ Tunggu sebentar iya dik, aku akan brtanya pada karyawan ” pamit aku dan perempuan itu berhenti mencari novel yang di cari dan aku lansung pergi mencari karyawan untuk bertanya novel yang di cari oleh perempuan itu, setelah aku bertanya aku menemui kembali perempuan yang masih berdiri di tempat pertemuan ku,

“ tempat novelnya bukan disini dik..” jelasku

“ lalu di mana kak” balik tanya perempuan yang belum aku mengenal namanya

“ mari ikut saya..” ajakku dan perempuan itu mengikuti langkah ku

“ nieh... semuanya ada disini..” tujukkan aku pada rak yang berjejeran di rak yang penuh dengan buku novel

“ terima kasih kak ...” syukurnya pada ku Perempuan itu pun langsung mencari buku yang di inginkan setelah menemukan buku yang di cari ia pun mendekatiku berbahgia

“ terima kasih iya kak bantuannya..” ucap perempuan itu setelah menemukan buku yang di perlukan

“ iya dik... memang begitu orang hidup di dunia harus saling menolong” jawabku

“ kalo boleh aku tau nama kakak sendiri siapa” tanya firda

“ panggil saja alfin” jawabanku datar

“Kalo adik sendiri siapa namanya” balik tanya aku

“ firda maulida tapi akrab di kenal firda kak..” dengan lincah menjawab pertanyaanku

“ sekarang adik tinggal dimana ”

“ di komplek desa tanunggung ”

“ berarti kamu satu desa denganku ”

“ emang kakak juga warga sana”

“ iya dik...”

“ dekat beararti ya kak, kalo bisa aku minta nomer kakak yang bisa di hubungi”

“ boleh..” berikan hapiku kepada firda dan dia mengambilnya nomer yang telah tertera di layar hp ku

“ kalo begitu mari dulu membayar bukunya” ajak ku dan firda mengikuti langkahku menuju kasir tempat pembyaran.

Setelah membayar aku pun keluar bersama firda yang sudah aku kenal, kemudian mencari tempat duduk untuk menghilangkan rasa letih yang mulai tadi berdiri mencari buku dan firda mencari penjual es krim dan aku pun mencari tempat yang pas umtuk duduk berdua setelah aku menemukan tempat yang pas firda datang dengan membawa eskrim dan makanan

“ ini buat kakak..” beri firda eskrim yang di pegang di tangan kanannya

“ terima kasih dik..” balasku dan firda duduk di sampingku

“ kalo boleh tau kakak ini penulis iya..” tanya firda

“ tidak dik, pembaca pembuku saja ” jawabanku

“ Aku kemarin membaca buku terbitan writer press dan di biografinya tercantum nama alfin maulidi dan alamatnya persis alamat kakak dan di prahgaraf terakhir meceritakan bahwa penulis itu pelanggan toko buku disini, memangnya ada yang namanya alfin maulidi lagi di desa kita ”

“ memang nya kenapa dik dengan penulis itu ”

“ isi bukunya sangat menggugah dan mengajak berprilaku baik dan sangat menyentuh kalbuku untuk bersemangat hidup, aku ingin sekali menjdi aktornya jika buku itu di filmkan”

“ beneran kamu ingin sekali mengenal penulis buku yang adik baca”

“ kalo bisa iya kak”

“ nie.. nomor hapinya” berikan aku dan firdaa menyalinnya, ketika mau di
simpan nomrnya sudah tertera di layar hp nya

“ Ie....h kok nomor kakak yang tadi”
“ itukan nomrnya penulis buku yang adik baca”

“ Beneran kak,”

“ Iya emangnya kenapa”

“ Aku tidak menyangka kalo waktu itu mengatur ku untuk bertemu dengan yang aku harpkan sejak dulu ternyata sudah ada di sampingku”

“ Sejak kapan kakak menjadi penulis”

“ Sejak aku mengenal cinta”

“ Menulis itu harus diawali dengan cinta”

“ Gak juga, pada waktu itu aku lagi sakit hati sebab tunanganku berpaling pada orang lain dan dia memutuskan dengan ku dan dia memilih pilihannya sendiri, mulai itu lah aku susun untuk di publiskan hasil jeritan sakit hatiku melalui cerita pendek yang di publiskan di kumpulan cerpen bersama teman teman ku yang sama sama penulis”

“ kapan kumcer itu di terbitkan, aku pengin membacanya”

“ sudah lama buku itu di terbitkan dan buku itu menjadi buku terlaris hampir di cetak 10 kali”

“ hebat kamu ya kak ” puji firda

“ bolehkah aku berkabung dengan kakak lewat tulisan atau karya kakak”

“ boleh boleh saja, kebetulan aku sekarang lagi mengumpulkan cerpen untuk di publiskan di bulan ini dan tinggal satu halaman, mungkin milik adik cocok dengan tema buku ini”

“ memang temanya apa kak ”

“ kehidupan berumah tangga”

“ wah sangat pas itu kak kebetulan baru saja aku menyusunnya tema yang kakak maksud ”

“ silahkan adik kirimkan sebelum satu minggu ini ”

“ iya kak aku usahakan, tapi leawat apa ya kak”

“ Antarkan saja kerumah ”

“ ieh... kakak aku malu jika harus ke rumah kamu lagian aku baru kenal dengan mu ”

“ memangnya harus kenal lama untuk berkunjung kerumahku”

“ iya tidak kak tidak begitu lah, oke aku akan mengantarnya kerumah mu ”

“ ya udah dulu iya dik ummi sudah menunggunya tu, kapan-kapan lagi” pamitku pada firda terburu buru karena umi sudah selesai berbelanja dan sempat melihat aku duduk bersama firda.

“ iya kak.. hati-hati di jalan”kak” pesannya sambil meperhatikan langkahku sampai aku tak terlihat lagi dari pandangan matanya.
***

“Perempuan yang ada di samping kamu itu siapa alfin” tanya umi setiba ada di rumah

“ teman umi ” jawabku simpel

“ katanya gak mau mengenal perempuan lagi ” ledek umi mengingatkan kata kata yang pernah aku lontarkan ketika aku putus dengan tunanganku

“ sebenarnya iya umi tapi karena dia minta kenal duluan ya aku terimalah ”

“ kamu tau diaa siapa namanya ”

“ ya taulah umi kan adanya perkenalan yang petama di tanyakan namanya”

“ takut itu alfin tidak tau namanya ”

“ kalo tidak tau namanya bukan kenalan iya bukan teman umi”

“ namanya siapa ”

“ firda maulida katanya dia sedesa umi ”

“ gak tanya nama orang tuanya”

“ iya gak umi, memangnya kamu kenal dengan perempuan itu ”

“ mungkin dia putri farihah teman kelas umi dulu ”

“ beneran umi ... kenapa tidak bilang mulai dulu sebelum aku tunangan itu ”

“ kamu suka pada perempuan itu”

“ kalo umi suka aku juga suka umi ”

“ kalo umi mulai dulu suka pada dia untuk di jadikan pendamping mu, tapi abimu sudah menentukan calon mu itu, ya udah aku simpan”

“ kalo begitu umi pinang saja dia sekarang ”

“ pinangan itu tidak harus terburu – buru kalo memang jodoh tidak akan kemana-mana”

“ terus kapan umi”

“ setelah mendpat restu dari abi kamu”

“ jangan lama lama bilang sama abi iya umi” pintaku pada umi dan umi pun tersenyum melihat kesemangatan ku kembali karena sejak aku putus dengan risma aku tidak banyak ngomong dengan abi apa lagi dengan umi kaerena tunangan aku dengan risma bukan dari aku pri badi melain dari abi dan umi sama sama merestui niatnya abi dan aku hanya menerima segala yang di rencanakan oleh abi karena setiap pilihan orang tua itulah yang paling terbaik.

***
2 hari setelah aku kenal dengan firda menjadi berita hangat bagi abi sebab abi mulai dulu mencarikan penggantiku setelah aku putus dengan risma, semua yang aku katakan sudah di sampaikan pada abi dan abi pun setuju dengan rencana umi akan tetapi abi belum menmuiku karena dia sangat malu untuk bertatap muka dengan ku atas kejadian yang membuatku bungkam, demi ke lancaran ku aku pun menemui abi yang duduk di sofa bersama umi di ruang tamu.

“ assalamu alaikum..” ucapku kepada kedua orang tuaku dan umi menjawabnya tapi abi hanya menunduk kepala

“wa alaikum salam ” jawab umi dan aku langsung sowan pada umi kemudian pada abi dan aku duduk di samping umi

“ kamu beneran suka pada perempuan yang di maksud umi kamu tadi ” tanya abi

“ kalo abi setuju aku suka abi ” “ aku sepakat dengan umi mu, dan abi minta maaf atas kejadian kemarin, abi tidak sukses untuk membahagiakan mu”

“ itu tidak penting lagi abi dan tidak perlu di bahas lagi, mungkin dia bukan jodohku” terangku

“ assalamu alikum” suara permpuan mengucapkan di balik daun pintu rumah dan umi terkejut atas sumber suara perempuan dan umi langsung bergegas membuka pintu

“ wa alaikum salam ” jawab umi setelah membuka pintu sempurna

“ alfinnya ada ya ibu..” tanya firda dulun sebelum umi betanya

“ iya ada di dalam, kamu firda ya nak...”

“ iya bu...” “ Silahkan masuk ” suruh umi sambil di bawa ke ruang tamu dan firda mengikuti langkah umi ke tempat semula

“ silahkan duduk nak ” suruh umi dan firda hanya tersenyum seraya duduk di sofa

“ sama siapa kamu kesini kamu dik ” tanya aku pada firda yang tampaknya malu karena masih di temani umi dan abi

“ sendirian kak ”

“ terus kamu tau dari siapa jalan menuju ke sini”

“ bertanya sama fina kak ”

“ oo fina, dia adik sepupuku ” terangku

“ sejak kapan kamu kenal sama dia dik ”

“ dia teman kursus, dulu di TBC ”

“ Kamu putri dari farihah ya nak,” tanya umi

“ iya bu.. kok tau ibu pada umi”

“ dia kan teman akrab umi di pondok dulu ”

“ iya bu umi pernah cerita masa lalu umi kepadaku tentang kebersamaan ibu dengan umi ”

“ iya umi kamu itu baik cerdas dia selalu rangking setiap akhir tahun dan dia rajin menulis
dan karyanya selalu di publiskan di media osis”

“ hebat umi kamu iya dik ” tambahku dan firda hanya tersenyum

“ kamu belum tunangan ya.. nak ” tanya umi

“ belum bu..” jawab firda tersipu malu

“ kok belum bukannya kamu dulu tunangan ” lanjut umi bertanya

“ gak jodoh ibu ”

“ sama dengan alfin ”balas umi

“ ooo iya kak, ini file cerpennya” beri firda sebua plasdisk dan aku pergi meninggalkan umi dan firda abi tampaknya sudah ada di kamar menunggu aku

“ itu yang di maksud ummi kamu ” tanya abi

“ iya abi, bagaimana menurut mu” jawabku seraya balik tanya

“ menurut aku cocok dengan kamu” jawab abi dan memberi senyuman

“ terima kasih bi..” syukurku pada abi seraya menciaum tangannya

“ kalo begitu, khithbahnya waktu dekat ini ” vonis abi sambil meninggalkan ku dan aku mengambil laptopku yang mulai tadi tidak di matikan dan mengambil cerpen karya firda maulida kemudian aku kembali pada ruang tamu, untuk menemui firda yang tampaknya akrab ngobrol dengan umi.

“ sudah di ambil kak file cerpennya” tanya firda

“ sudah dik...” jawabku dan memberikan flasdisknya

“ kalo begitu aku pamit dulu ibu ” pamit firda

“ kok terburu buru nak ” tanya umi pelan

“ ada kepentingan lain ibu ” jawab firda pelan seraya sowan pada umi

“ aku mau pulang dulu ya kak ” pamit firda padaku juga dan dia keluar dengan sopan dan mengucapkan salam sebelum keluar dari pintu rumah

“ andai dulu abimu setuju dengan rencanaku, sekarang tidak repot untuk melamarnya” curhat ummi padaku sesudah firda jauh dari pandangannya, abi hanya tersenyum kecil, akupun membalasnya dengan senyuman pada umi sebelum aku masuk kedalam kamar.

***


Satu minggu kemudian, umi tampaknya lega atas keputusan family dalam rangka khithbah dengan firda, semua family sudah menberikan bendera untuk segera di langsungkan acara pinangannya. Malam ini juga, umi dan abi, serta paman sholeh merupakan teman akrab bapaknya firda sejak kecil sekaligus yang akan menjadi juru bicara kepada keluarga firda nanti. Setiba di rumah bertembok putih ummi melanungkan mengucapkan salam, tak lama kemudian paru baya menjawab salam ummi perempuan itu uminya firda yang masih mengenakan mukenah putih, pantesan keluargaku berangkat sesudah sholat maghrib dan tiba sebelum sholat isya`

“ farizah....” sapa umim firda pada ummi dengan nada bahgia senang bertemu kembali dengan teman akrab yang lama tak berjumpa kemudian abinya firda keluar dan kopyah hitamnya masih melekat di kepalannya

“ sholeh..” sapa juga bapaknya firda kepada paman sholeh semua sowan secara simbolis kepada pak rahmat dan umi bukan sowan melainkan berpelukan dengan bu farihah layaknya masa mudanya kala dulu .

“ mari kita masuk” ajak bu farihah dengan nada ramah seluruh keluargaku yang ikut serta mengikuti langkah bu farihah dan pak rahmat kedalam rumah nya, kedua orang tua firda belum mengetahu maksud kedatangan keluargaku dan tidak ada rasa sial karean keluargaku teremsuk teman-temannya, namun berkulit putih nan wajah indah itu belum menanpakkan wajahnya di ruangan yang di domnasi penerangan lampu sederhana dan foto keluarga firdadimas iya kecil terpangpang di tembok berwana kuning, ketidak munculan firda di ruangan menjadi pertanyaan umi ketika duduk di sofa

“ anakmu keman farihah” tanya umi pada bu farihah di tengah asyiknya mengobrol

“ mungkin lagi ngajarin adik sepupunya di rumah pamannnya” terangnya bu farihah

“ memanngnya kamu sudah kenal dengan anakku” tanya bu farihah tampa ada kecurigaan atas kedtangannku

“ kenal banget ketika dia berkunjung kerumah kemarin, cara bicaranya sopan seperti kamu dulu” jawab umi serraya memujinya

“ kapan dia akan pulang dari tempat pengajiannya” tanya lagi umi

“ sebentar lagi juga akan datang, mungkin lagi menunggu sholat isya`” terang bu farihah, paman dan abi sibuk bertukar cerita, ketika adzan di kumandangkan semua orang yang berkumpul di ruangan itu dia, merekapun menjawab kalimat adzan yang di kumandangkan oleh muadzzim setelah itu, paman sholeh angkat bicara tentang kedatangan keluargaku, paman sholeh dengan lancar mengutarakan kalimat awal dalam lamaran ku dengan firda.

“ kalo kami sebagai orang tua menerima atas lamaran nya namun jawabannya bukan sekarang maksud dari kami bukan detik ini, kami mau minta persetujuan terlebih dahulu kepada firda yang akan menjalankan kehidupan yang penuh pertanggung jawaban dan penuh kerukunan antara keduanya” ucap bu farihah dengan nada pelan dan penuh senyuman dan pak rahmat hanya bisa bumkam sebab dia senasib dengan abiku.

“ assalamu alaikum” suara lembut mengucapkan sala di balik daun pintu dari luar

“ waalaikum salam” jawab semuanya orang yang ada di dalam ruangan dan firda membuka pintunya sendiri dan terkejut atas kedatangan keluargaku , namun keterkejutannya menjadi kebahagiaan

“ bu farihah” sapa firda tersenyum dengan keakrabannya dan sowan pada ummi

“ dari mana nak” tanya umi berpura-pura tidak tau

“ dari pengajian bu, ibu sudah lama disini iya” jawab firda seraya balik tanya

“ baru saja disini nak ” jawab ummi

“ kak alfin bagaimana kabarnya ” pindah tanya firda padaku

“ alhamdulillh baik-baik saja dan kamu bagaimana kabarnya” jawabku seraya balik tanya

“ alhamdulillah baik juga ” jawab firda sambil tersenyum

“ bagaimana cerpen aku sudah di edit kak” tanya firda

“ baru selesai di edit dik”

“ tidak seru ceritanya iya...”

“ hanya orang yang tidak suka sastra yang mengatakan cerpen kamu tidak seru, dan ketika di ajukan ke editor sastra cerpen kamu paling bagus dari pada milik aku” jelasku dan firda tersenyum bahagia semua orang yang ada di ruangan hanya menyaksikan keakraban lughat pembicaraan ku yang sangat akrab dengan firda

“ kapan itu akan terbitnya itu kak..”

“ insya allah satu minggu lagi dik..”

“ em... aku tunggu iya”

“ aku pamit dulu ya kak, buk, aku mau ke kamar dulu” pamit firda padaku serta umi dengan
sopan seraya melangkahkan kakinya menuju kamarnya

“ jadi kamu sudah kenal dengan firda” tanya bu farihah setelah firda masuk kedalam kamanya

“ iya bu, baru 9 hari” jawabku jujur

“ kalo sudah jujur pasti jawabannya gampang”

“ semoga benar ucapan mu” tambah ummi

“ kalo begitu aku akan minta pendapatnya pada dia dulu” pamit bu farihah dan pak rahmat
mengikuti langkahnya bu farihah menemui firda ke dalam kamrnya, setiba di kamarnya menjadi herah atas kedatangan umi dan abinya persis seperti ketika dia di tunangkan dengan tunangan sebelumnya.

“ ada apa ya ummi ” tanya firda pada umminya tampa mempersoalkan fikiran yang ada di benaknya walaupun sebelumnya mengetahui bahwa kedatangannya kedua orang tuanya adalah tentang masa depan.

“ ummi sangat prihatin atas ke akrabanmu dengan alfin dan bu farizah”

“ maksudnya ummi apa ” tanya firda

“ tu alfin temanmu, malam ini melamarmu, kalo kamu setuju jawablah dengan jujur namun kalo kamu tidak setuju jawab juga dengan jujur tapi jangan sampai memalukan ummi karena dia umminya lafin teman akrab umi juga” jelas bu farihah meminta pendapat pada firda yang sedang bingung untuk memberi keputusan antara iya dan tidak, kalo tidak bagaimna cara mengutarakannya karena telah terlanjur akrab dan terlanjur punya rsa yang terpendam sejak pertemuan pertamanya tapi jika di ungkapkan dalam waktu larut akan sesat di jalan dan jika menjawab dengan baahwa menyetujui kapan rasa yang terpendam dalam haatinya akan terungkap, namun cinta itu bukan bersumber dari kata kata akan tetapi dari prilaku senyuman dan kesopanan serta kesetiaann.

“ bagaiman nak, baru setengah jam ummi menunggunya” tanya bu farihah gelisah menunggu jawaban dari putri bungsunya yang selalu di kejar orang.

“ iya ummi” jawab firda tampa sengaja bibirnya berkata mengira uminya memanggilnya dari kejauhan.

“ alhamdulillah” syukurnya bu farihah dan pak rahmat

“ kalo begitu umi menemui tamu kita dan kamu lanjutkan berias setelah itu temui kembali calon tunangan mu”

“ sebenarnya ada apa ummi” tanya firda bingung

“ bukannya kamu menyetujui lamaran alfin tadi, ya udah cepatan kamu berias dengan cantik cepatan temuin dia”

“ tapi mi...” firda masih tidak percaya bahwa dirinya menyetuji nya dan bu farihah menggalkan bu farihah menemui keluargaku. Firda tampaknya kesal atas kata yang terlepas dari bibir manisnya jika kata-kata itu isa di ulang kembali pasti jawabannya bukan sekarang dan akan mengutarakan lewat kata kata cerpenkeduanya yang sedang di tulis yang hampir selesai. Bu fariha yang duduk di sopa tampaknya gelisah menggu firda keluar dari kamrnya, 5 menit kemudian firda keluar dari kamarnya dengan wajah anggun nan indah, krudung jilbab warna ungunya menghiasi keindahan wajanya baju yang di keanakan menjadi daya tarik bagi sip[a yang melihatnya yang sesuai dengan ketinggian postur tubuhnya, firda pun menutupi kekesalannya dengan mengembangkan senyuman kepada keluarganya dan kelaurgaku.

“ nak firda semakin cantik” puji umi

“ terima kasihibu” syukurnya firda denga nada lembut dan sopan

“ bagaimana bu farihah keputusan musyawaroh tadi” tanya paman sholeh dengan datar

“ alhamdulillah nak firdanya menyetujinya” jawab bu farihah dengan jujur dan firda menunduk kepala dan meneteskan air mata bahagia orang yang selalu di sebut sebutv dalam hatinya juga mempunyai perasaan yang sama, kini telah sah menjadi tunangannya tampa menibarkan bendera yang serius sebelum tunangan berlansung, namun sekarang tidak penting lagi jika bendera itu di gibarkan melainkan kesetiaan yang harus di ikat selamnya.
***

KESIMPULAN REPARASI CERPEN BERDASARKAN POINT DISKUSI

1.    EBI 

EYD atau EBI perlu diperbaiki, terdapat banyak kesalahan. Misal penggunaan huruf capital, tanda kutip pada dialog, tanda koma dsb.

2.    Tema
Tema menarik, hanya saja terlalu banyak dialog yang tidak focus pada tema atau konflik yang dibangun. Hal tersebut menyebabkan cerita melebar dan konflik di dalam cerpen ini tidak terlihat.

3.    Setting
Setting masih kurang, bahkan terkesan samar. Belum banyak deskripsi yang menguatkan tentang setting cerpen ini.

4.    Alur
Alur maju. Alur masih datar sehingga menyebabkan cerita cerpen ini gampang ditebak oleh pembaca.

5.    Karakter  
Karakter tokoh belum terlihat kuat, ada beberapa typo pada nama-nama tokoh yang membuat pembaca bingung. Sebaiknya penulis menghindari menggunakan nama-nama tokoh yang hamper mirip, seperti Farizah dan Farihah.

6.    Gaya Penulisan 
Terlalu banyak tell dalam cerpen ini, penulis harus rajin membaca dan belajar tentang teknik cerita.

7.    Genre
 Religi

Catatan tambahan :
  • Opening kepanjangan, kurang menarik.
  • Perbaiki judul, judul harus membuat penasaran bukan membongkar isi cerita.
  • Banyak kalimat yang kurang efektif, dialog yang tumpang tindih dan typo yang bertebaran.
  • Rajin-rajin membaca karya yang sudah dimuat di media cetak, agar bisa menjadi bahan perbandingan dan pembelajaran.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar