Home » , » Mata Kuliah Teori Puisi edisi 1, "MEMASUKI DIRI SENDIRI"

Mata Kuliah Teori Puisi edisi 1, "MEMASUKI DIRI SENDIRI"

Written By Lalu Razieb Ariaharfi on Minggu, 11 Desember 2016 | 18.44

Gambar Teori Puisi

Salam Seni dan Budaya

Mohon maaf kepada seluruh Dewan Pengurus, Rektor, Dekan, para Dosen, dan Keamanan Kampus. Saya mohon ijin membuka dan memposting materi pertama Kelas Teori Puisi malam ini.
MEMASUKI DIRI SENDIRI

Definisi seni jika ditinjau dari berbagai sudut pandang memiliki banyak makna, satu di antaranya adalah “seni merupakan pengekspresian cipta rasa manusia dalam suatu karya yang dapat dikatakan unik”. Seni merupakan sinonim dari ilmu, karena pada mulanya seni merupakan sebuah proses dari manusia. Seni merupakan inti sari dari ekspresi dan kreatifitas manusia.

Jakob Soemardjo menyatakan bahwa seni memiliki enam pandangan tentang apa yang seharusnya diwujudkan dalam seni, yaitu:

1. Seni itu representasi sikap ilmiah atas kenyataan alam dan kenyataan sosial,

2. Seni merupakan representasi general dari alam dan manusia umumnya,

3. Seni adalah representasi karakteristik general dalam alam dan manusia yang dilihat secara obyektif,

4. Seni adalah representasi bentuk ideal yang melekat pada alam kenyataan dan alam pikiran manusia,

5. Seni merupakan representasi bentuk ideal yang transcendental (homo relegius), dan

6. Seni adalah representasi seni itu sendiri (seni untuk seni).
(Jakob Soemardjo: Filsafat Seni, 2000)

Hakekatnya setiap manusia (individu) adalah seorang seniman yang tentu saja porsinya berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Setiap orang pasti menyukai dengan keindahan, kerapian, serta segala sesuatu yang dapat membuat dirinya nyaman, gembira, dan diakui keberadaannya.

Pertanyaan terbesarnya: Kenapa tidak semua orang menjadi penulis, penyair, pelukis, maupun bidang seni lainnya?

Akan ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini, tentu saja disesuaikan dengan pendapat, pemahaman, tingkat pendidikan, serta wawasan tiap individu. Jawaban paling umum yang dapat dan sering didengar adalah: “Saya tidak berbakat, Saya tidak bisa, Saya tidak tahu, dan sejenisnya.”

Secara tidak sadar tiap individu menggunakan alat ukur ‘kesuksesan orang lain’ dalam mengukur dan menakar kemampuannya sendiri. Kesuksesan dan keberhasilan orang lain menjadikan diri sendiri silau dan takjub, sehingga lupa bahwa sebenarnya kita juga bisa. Hal ini lambat laun akan menjadi virus yang menyumbat kreatifitas individu.

Menulis merupakan satu dari empat keterampilan berbahasa yang tentu saja membutuhkan pembiasaan secara terus menerus. Menulis memiliki banyak dimensi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Menulis merupakan ‘out put’ atau hasil dari proses pengamatan, pembacaan, pendengaran, dan perenungan (berpikir). Menulis bisa diibaratkan dengan ‘buang air besar’, yang mana tidak mungkin seorang manusia akan buang air besar jika tidak pernah memasukkan sesuatu ke dalam tubuhnya.

Lalu apa yang harus dimasukkan ke dalam tubuh untuk menghasilkan tulisan? Rainer Maria Rilke dalam ‘Suratnya Kepada Penyair Muda’, yang diterjemahkan oleh Sutardji Calzoum Bachri memberikan sebuah renungan yang menarik. …… Maka itu, aku tidak bisa memberi nasihat kecuali ini: pergilah masuk ke dalam dirimu, galilah sampai ke dasar tempat kehidupanmu berasal;

……

Penggalan surat di atas, jelas memberikan hal penting yang harus dipahami oleh siapa saja yang ingin dan mau menulis, yaitu: Masuk ke dalam diri
Kekayaan terbesar manusia yang sebenarnya adalah kenangan dan pengalaman-pengalaman masa kecil, segala sesuatu yang dia alami ketika kecil. Semua hal yang terjadi pada masa kanak-kanak—entah bernilai baik maupun buruk—semuanya merupakan gudang tempat menggali kekayaan diri pribadi yang tentu saja dimiliki oleh setiap orang, dan bentuk serta rasanya berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

Keadaan (kehidupan) kita saat ini bisa jadi adalah bentuk dan perwujudan kita di masa lampau, tetapi juga sangat bisa merupakan kebalikan dari apa yang kita bayangkan, impikan, dan kita inginkan di masa lalu. Semua itu adalah harta karun terpendam yang jarang sekali kita sadari, bahkan kita selalu berusaha untuk melupakannya (karena beberapa alasan tertentu).

Kenangan masa kanak-kanak, yang bernilai baik maupun buruk, merupakan sebuah bahan yang sangat luar biasa bagusnya. Kenangan baik maupun buruk itu bisa saja menjadi sebuah nasehat dan cermin bagi orang lain ketika kita menuliskannya dalam bentuk apapun—sajak, cerpen, novel, maupun naskah drama. Semua orang pasti memiliki kenangan, pengalaman, dan hal-hal lain di masa kanak-kanak, maka sudah pasti setiap orang bisa menulis.

Langkah awal untuk menulis adalah berani untuk menulis dari sekarang, saat ini.

Salam…

DAFTAR RUJUKAN Soemardjo, Jakob, 2000, Filsafat Seni, — Rilke, Reiner Maria, Letters To A Young Poet, terjemahan Sutardji Calzoum Bachri: Surat Kepada Penyair Muda
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar