Home » , , , , , , » Mata Kuliah EBI dan TBBI edisi 1, "LICENTIA POETICA PADA KARYA SASTRA”

Mata Kuliah EBI dan TBBI edisi 1, "LICENTIA POETICA PADA KARYA SASTRA”

Written By Lalu Razieb Ariaharfi on Minggu, 11 Desember 2016 | 19.09

Tata Bahasa Baku Indonesia


Hai Semua! Perkenalkan saya Zahratul Wahdati, panggil saja Ara. Salam kenal! Di kelas ini sitemnya kita belajar bersama, ya. Sama saja di kampus, kadang dosen juga ada yang salah, jadi bisa diberi kritik dan penambahan materi. Ara tidak sendirian mengampu kelas ini, Ara ditemani Bunda Zahra. Ara akan berbagi mengenai Tata Bahasa Baku Indonesia, sedangkan Bunda Zahra tentang EBI.

Untuk membuka kelas EBI dan TBBI perdana ini, kita akan berdiskusi mengenai pentingnya kelas ini kalian ikuti. Sebagai penulis, kita harus memilikiminimal tiga pengetahuan, yakni ejaan, tata bahasa, dan paham ragam bahasa. Biasanya, penulis yang ngeyel karena ketidakmampuan dalam mencapai standar minimal tersebut akan mengatakan isi jauh lebih penting dibandingkan ejaan. Biasanya yang mengaku hal-hal tersebut lebih cocok dibidang sastra dibandingkan linguistik (bahasa). Padahal, sastra itu termasuk bagian dari ilmu bahasa. Makanya, sebagai penulis sastra kita membutuhkan ejaan, tata bahasa, dan pemahaman mengenai ragam bahasa. Jangan terlalu berlindung kepada hukum Licentia Poetica.  

Bila tidak, maka rusaklah bahasa Indonesia di tangan para penulis. Seperti yang kita tahu, kita menulis untuk dibaca jika tulisan kita salah akan berdampak kepada pembaca juga. Jangan sampai kita tergolong pada penulis yang merusak bahasa, ya!   Mata kuliah ini memang berat, tetapi harus dipelajari karena sebagai dasar kita untuk menulis. Materi pertama kita adalah licentia poetica pada sastra.   Sudahkah kalian mencari mengenai materi tersebut? Mari diskusikan.

Licentia poetica sering diartikan di Indonesia adalah kebebasan pengarang menabrak kaidah-kaidah bahasa demi mendapatkan efek estetis. Pengertian tersebut sering salah diartikan bahwa menulis sastra boleh menabrak kaidah-kaidah bahasa untuk mendapatkan efek estatis. Itu tidak boleh, Sayang! 

Menurut dosen saya, Pak Zainal, sebebas-bebasnya sebuah karya sastra tetap terikat pada kaidah kebahasaan, terikat struktur semantik, terikat pada gramatikal, dan lain-lain (nanti kita pelajari istilah yang mungkin asing ini dipertemuan selanjutnya). Kenapa tetap terikat? Sebab tidak mungkin kita bisa bercerita apa pun bila kita menggunakan licentia poetica secara penuh. Contoh konkret: saya membuat karya puisi isinya hanya “xxx???”. Puisi itu tidak bunyi, tapi tetap saja terikat kaidah bahasa (fonetik dan fonemik, segmental, dan suprasegmental.) Jadi sebebas-bebasnya orang berkarya, tetap dia terikat (entah disadari atau tidak). 

Menurut Kak Arif Fitra, licentia poetica boleh digunakan jika tidak ada bahasa yang mewakili kata yang ingin diungkapkan pengarang. Kata tersebut terlalu abstrak sampai sulit untuk memilih bahasa yang bisa mewakilinya. Ia mencontohkan kata Tuhan. Tuhan sulit untuk diceritakan oleh pengarang puisi Remy Silado. Yang mengulang kata-kata Tuhan lalu memisah kata Tu Han dan seterusnya (bisa dicari sendiri puisinya). Akan tetapi, meskipun kata Tu Han di pisah-pisah tetap memiliki kaidah fonetik atau fonemik. Kaidah fonemik dan fonetik dipelajari pada bidang fonologi.

Catatan kecil:

Fonetik: cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak.

Fonemik: cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa dengan memperhatikan fungsi bunyi tersebut sebagai pembeda makna.

Segmental: fonem yang bisa dibagi. Contoh kata bahasa,bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa atau b-a-h-a-s-a. (fonem bagian terkecil dari kata)

Suprasegmental: sesuatu yang menyertai fonem tersebut antara lain intonasi, panjang-pendek, getaran suara yang menujukan emosi tertentu. 

Pusing teman-teman? Tetap semangat, ya! Penjalasan di atas lebih mengacu kepada licentia poetica pada puisi. Lalu bagaimana licentia pada prosa? Bagaimana pendapatmu mengenai licentia poetica pada puisi dan prosa? Mari diskusikan bersama. Tanggapanmu terhadap materi itu merupakan absen kelas ini. Yuk mulai diskusinya! Ohya kalau ada yang bertanya silakan.  

Referensi:

Buku Tata Bahasa Baku Indonesia

Kuliah dan diskusi bersama Pak Zainal Arifin Za,                                                                             

Dosen Universitas PGRI Semarang Materi lokakarya bersama Arif Fitra Kurniawan, Penulis Puisi Nasional    
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar