Home » , , , , » Reparasi Cerpen Edisi 3: YANG TERTINGGAL DI LANGIT BONN

Reparasi Cerpen Edisi 3: YANG TERTINGGAL DI LANGIT BONN

Written By Lalu Razieb Ariaharfi on Rabu, 30 November 2016 | 23.28

Gambar Reparasi Cerpen Edisi 3

Oleh: Armielda Rayya 
Langit Bonn hari itu begitu kelabu. Aku bahkan sulit mengingat saat itu sorekah atau mendung menjelang pagi. Yang kuingat, Torsten menatap kosong pada dedaunan jatuh di luar jendela dapur berkusen warna putih gading sedang aku di depannya hanya sibuk mereka-reka mengapa sedari tadi dia justru sibuk mengalihkan pandangannya dariku.

“Machitto, kesukaanmu”Kucoba memecah keheningan yang ternyata ditanggapinya. Baru kali ini dia mengacuhkan kopi favoritnya, hanya kembali menatap daun-daun gugur.

Torsten menyeruput kopinya dan tak bicara sepatah pun. Lima menit, sepuluh menit, keheningan mulai menyiksa. Aku tahu ada yang tidak beres dan Torsten, seperti biasanya, kesulitan mengutarakan. Aku tidak mengerti mengapa bila berhadapan dengan isi hatinya, mulutnya terkunci dan otaknya tiba-tiba menyimpan jutaan data terenkripsi yang tak seorang pun kuasa membukanya kecuali dia.

Aku sudah akan putus asa, berdiri dan mengangkat gelasnya dan gelasku sendiri yang sudah kosong, berjalan menuju wastafel. Nafasku mendesah berat, begitu saja. Tiba-tiba Torsten sudah berdiri di belakangku, memelukku pelan dan ragu sambil dagunya bertengger di bahuku. Suaranya begitu berat. “Aku bertemu Katja,” katanya. “Dia sudah tahu tentang kita?” Torsten mengangguk. “Kenapa kau seperti orang yang baru melihat setan?” Tanyaku sambil tertawa, mengajaknya bercanda seraya memutar tubuhku menghadapnya. Lalu dia bungkam lagi.

“Dia ingin kembali bersama”

“Bukannya dia sendiri yang pergi dan mengatakan semua hanya masa lalu? Sudah hampir tiga tahun berlalu dan ia ingin kembali? Kita hanya tinggal menyebarkan undangan. Apa yang kamu rahasiakan dariku?” tanyaku menelisik, Torsten semakin gelisah.

“Dia mengandung anakku” Ucapnya, jantungku seolah melompat dari kerongkonganku. Kulihat kabut berat di wajah Torsten. Mukanya memerah dan Ia menelan ludah yang kering berkali-kali.

“Tapi, dia di Seatle.. Bagaimana mungkin? Apa kalian bertemu lagi tanpa aku tahu?” Tanyaku tajam menantangnya, memaksa Torsten menunduk. Aku begitu geram, dadaku siap meledak dan aku kehilangan kendali atas diriku. Tubuhku ingin meronta-ronta menahan sakit yang pecah. Ketika akhirnya aku bisa bertahan pada pinggir meja makan dan menggenggamnya kuat-kuat, aku melihat Torsten sedang menatapku dengan tatapan seolah melihat sesuatu yang mengerikan, menanti putusan seorang hakim yang tak kenal ampun.

“Kamu tahu, penzina hanya pantas menikahi yang sederajat dengannya.” Ucapku dengan bibir gemetar padanya yang mematung di hadapanku. Tangannya berusaha meraih pundakku, membenamkan aku di pelukannya, meredakanku. Tapi, dia mengurungkannya tepat saat matanya menembus rahasia terdalam di hatiku. Dia tahu, kemarahanku hari itu telah memaksanya menyelesaikan semuanya. Kisah cinta kami.

***

Penzina hanya untuk penzina. Apa yang aku pikirkan ketika mengucapkan kata-kata itu di hadapan Torsten? Aku bukanlah penganut agama yang begitu benar. Aku hanya menjalankan sholat lima waktu, itu saja. Selebihnya aku hanya manusia sama dengan kebanyakan orang yang berjalan limbung di dunia ini. Aku mengucapkan kata-kata itu hanya untuk memenangkan egoku sekaligus membunuh dirinya yang telah mengkhianatiku. Melihat air mukanya yang keruh dan seolah akan diekskusi mati, aku merasakan kepuasaan. Tapi, sesungguhnya yang kemudian ada begitu lama dalam sakit hati adalah diriku sendiri. Torsten akhirnya menikah dengan Katja sedangkan aku terdampar di sebuah negeri bernama Mekah.

Orang-orang mungkin mempertanyakan, sama seperti yang ada di dalam pikiranku, apa yang dilakukan seorang Magister Teknik Pengairan di sebuah travel agent perjalanan Haji? Aku bukan pemiliknya, bukan pula direktur atau semacamnya. Hanya pegawai biasa. Hari-hari yang kujalani begitu sederhana. Menyiapkan segala kebutuhan calon jemaah haji dari berbagai negara yang memakai jasa kami. Mungkin kemampuan bahasakulah yang menjadi pertimbangan sang pemilik yang kupanggil Ummi ketika dengan putus asanya kumelarikan diri ke Mekah untuk umroh dan tak pernah ingin kembali lagi.

***

Hari panas di Mekah. Ummi tiba-tiba mendatangiku dengan terburu-buru. Dengan Bahasa Arab yang kental Ummi bicara tergesa-gesa, aku belum dapat sepenuhnya mencerna ketika Ummi sudah menarik tanganku ke ruang tamu. Di sanalah kutemukan tiga orang pemuda berkulit dan berambut kuning pucat sedang bicara dalam panik, sepanik dua orang karyawan travel kami yang kesulitan mengerti apa yang mereka katakan. Salah seorang dari pemuda itu, yang lebih dulu memaling wajah ke arah kedatanganku dan Ummi, menatapku tajam. Mungkin hanya heran dengan hijabku yang tidak seperti yang lainnya. Aku tidak memakai pelindung muka. Hanya jilbab berwarna soft brown. Tapi, perkiraanku salah. Dia mengenaliku. “Zuhra..... Thanks God! (dalam bahasa jerman),” teriaknya. Dia tertawa dan mendatangiku. Aku mengenalnya, Gustav, Juniorku di tahun kedua kuliahku di Bonn, sebelum akhirnya dia pindah dan hanya bertukar kabar lewat FB. Dia yang mengenalkanku pada Torsten.

Gustav duduk di depanku dengan secangkir kopi (khas arab saudi?). Dia yang tersisa dari rombongannya yang akan berangkat pulang hari ini beberapa jam lagi. Kami semua lega karena masalah dapat terpecahkan. Seluruh rombongan Haji dari Jerman itu akhirnya menggunakan travel kami untuk kembali pulang setelah agent mereka meninggalkan mereka di Hotel dengan semua uang yang raib dan biaya hotel yang belum lunas.

Aku rasa, pertemuanku dengan Gustav bukanlah hanya kebetulan belaka. Semua seperti sudah jalan dari Tuhan. Dia memberiku banyak cerita dari Bonn. Ternyata, setelah beberapa tahun melalang buana tanpa tujuan, Gustav yang seorang petualang, akhirnya pulang kampung dan menetap di sana. Dia tidak menjadi arsitek atau dokter seperti keinginan orang tuanya, tapi malah membuka gerai jual beli daging halal yang terbilang sukses. Gustav umrah bersama istri dan anak laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun. Aku sama sekali tidak percaya Gustav bisa menjadi laki-laki domestik, sebutanku untuk pria yang peduli keluarga. Tapi, di balik antusiasku mendengar semua ceritanya, terselip keinginanku untuk mendengar kabar dari Torsten.

Ketika aku melihat Gustav, Istrinya dan Anak laki-lakinya yang bermata biru langit, kubayangkan Torsten, Katja dan anak mereka yang entah mungkin sudah dua atau tiga? Gustav sepertinya tahu dengan kegelisahanku. Setelah menyeruput seteguk kopi hitamnya, dia tiba-tiba berkata dengan hati-hati. “Aku tidak pernah ketemu Torsten hampir 8 tahun. Benar-benar lost contact dan tidak pernah mendengar kabarnya. Tidak ada nomor ponsel, email atau facebook, dan kau tau dia alergi twitter..., ” katanya sambil tersenyum.

“Mungkin menikmati peran barunya sebagai ayah, seperti kamu... ” Kataku sambil tersenyum juga. Gustav membalas sambil membenarkan duduknya. “Kapan kembali ke Bonn?” Aku dibuat tercengang dengan pertanyaan itu. “Kantormu yang dulu masih bertanya-tanya akan kembalikah karyawannya yang menguasai tujuh bahasa itu?” Aku menghela nafas, mencoba mempertahankan senyum dengan bibir yang gemetar.

“Aku masih belum berani kembali ke sana, Gustav.. . Aku sendiri masih sulit percaya mengapa waktu belum juga bisa menyembuhkan.” Kataku semakin gusar.

“Kau takut dia ada di sana?” Aku melihat Gustav dengan tanda tanya besar. Sebenarnya aku pun tak yakin dia ada di sana.

“Kalau dia di sana, aku pasti sudah bertemu dengannya, Zuhra... Jangan membenci sebuah kota yang tidak bersalah itu karena satu orang yang menyakiti hatimu.” Kata-kata Gustav membuatku terhenyak. Apakah aku membenci Bonn sebegitu besarnya?

“Baiklah, aku harus menyusul yang lainnya. Aku harap kita dapat makan karotenkuchen di cassius garten kita lagi,” Gustav membuat lamunanku kembali, seolah-olah aku sedang duduk makan kue carrot di kafe tempat kami biasa berkumpul di Bonn. “Aku ingin kamu mengenal keluargaku lebih baik lagi. Istriku pasti akan sangat senang karena kalian satu tanah air.”

Aku mengangguk pada Gustav. “InsyaAllah...” Seraya mengantarnya keluar pintu.

***

Torsten sedikit mirip Gustav. Hanya berambut lebih gelap dan bermata biru terang. Itulah sebabnya, pertemuan dengan Gustav membuatku semakin gelisah. Sudah 8 tahun. Benarkah sudah selama itu? Kenyataannya, aku dan Torsten nyaris menikah. Kami baru akan mengambil cetak undangan dua hari berikutnya bila Katja tidak tiba-tiba kembali ke dalam kehidupan Torsten.

Mereka mungkin memang pasangan yang sejati. Tidak seperti bayanganku, mereka belum dapat saling melupakan. Kisah cinta dari remaja yang putus sambung dan kerumitan hubungan karena perbedaan keyakinan rupanya tidak berhasil memisahkan kisah cinta mereka. Torsten dan Katja akhirnya menikah, bukan?

Aku bertemu Torsten di awal tahun kedatanganku di sebuah kota, Bonn, di Jerman.  Kami menghadiri undangan perpisahan temanku sesama warga negara Indonesia yang akan segera pulang ke Aceh. Acara itu di sebuah restoran di Koln, berdekatan dengan Bonn tempatku menempuh pendidikan master. Maagku kambuh, tubuhku mulai demam, tak bisa makan dan ingin pulang duluan. Sahabatku itu, meminta Torsten menemaniku, minimal sampai stasiun kereta.Tapi dari stasiun, Torsten malah berakhir di depan pintu apartemenku, dan rasanya tak enak hati membiarkannya langsung pulang, maka setengah jam kemudian, kami habiskan dengan mengobrol ini itu sambil minum teh.

Kapan aku dan Torsten menjadi pasangan? Yang kuingat, kami sering bertukar cerita dan kemana-mana selalu berdua. Mungkin dia mulai menganggapku lebih dari teman kuliahnya ketika ia putus dari Katja untuk kesekian kalinya. Terakhir kali dia menyebut kata “berpasangan” dengan bentuk past tense, di hari itulah aku tahu, kami tidak lagi hanya sekadar sahabat.

Dan, pernikahan yang batal? Itu adalah kejadian paling kejam dan memalukan dalam hidupku. Aku hampir kehilangan pegangan. Bagiku Torsten adalah penjelmaan dari seluruh imajinasiku tentang Tuan Sempurna untuk hidupku. Dia satu-satunya laki-laki yang bisa kuajak tertawa dan “gila” bersama. Sungguh manusia langka yang tak bisa kutemui di sembarang waktu. Aku sangat menikmati setiap kekonyolan dan kegilaan kami. Juga saat jatuh dan bangun dalam kehidupan kami.

Dia ada saat aku kehilangan orang tua dan saat tesisku tertahan karena alasan yang tidak jelas. Juga setia ketika kami lulus dan mencari pekerjaan kesana kemari. Ketika Torsten akhirnya melamarku di sebuah tempat rahasianya, aku sama sekali tidak kaget. Aku tahu, kami ditakdirkan bersama.

Tapi, semua itu segera berlalu. Torsten mengkhianatiku. Entah lebih menyakitkan karena ternyata dia berkhianat untuk cinta lamanya yang mungkin cinta sebenarnya untuknya? Kurasa kenyataan itulah yang membuat aku begitu patah hati dan memorakporandakan kepercayaan diriku. Setelah tahu Torsten menikah, aku semakin kehilangan tujuan. Saat itulah, sebuah peristiwa menyedihkan berubah menjadi titik balik dalam hidupku. Kost-ku yang kutempati dengan sahabatku terbakar di musim panas 8 tahun lalu. Kami tersisa hanya dengan baju di tubuh dan selembar tiket perjalanan umrah di kantong sahabatku, seorang muslimah taat berkebangsaan Afrika. Mendengar kabar kebakaran itu, seluruh keluarga menyuruhnya kembali dan dia memberi tiket itu kepadaku. Aku, dengan perasaan tak pasti, menyanggupi perjalanan itu, meninggalkan Bonn dan tak pernah kembali.

***

Aku tidak pernah menemukan waktu untuk melamunkan sejarah patah hatiku di sini. Kantor ini selalu sibuk. Beberapa bulan sekali kami terbang untuk urusan bisnis atau sekadar liburan ke beberapa tempat. Dan, kali ini, dalam dingin malam, aku dan Ummi berada di dalam taksi, membelah jalanan kota Vatikan, melewati Colloseum dan Trevi Fountain.

Vatikan begitu magis. Kota dengan seribu rahasia itu dilingkari dengan tempat-tempat ibadah Katolik yang berumur ratusan tahun. Rombongan-rombongan ziarah datang dari berbagai negara. Mengunjungi Basilika Santo Petrus dan berbagai destinasi ibadah lainnya. Di suatu kesempatan, di sela-sela pertemuan bisnis Ummi, aku berjalan-jalan di sekitar hotel mencari udara segar dan minuman hangat. Aku berhenti di kafe beberapa puluh meter jarak dari hotel. Udara dingin menusuk tulang, rasanya lebih dari bekunya Bonn di musim dingin. Ataukah karena hatiku yang kesepian?

Perjalanan kali ini, aku tidak sendiri dengan Ummi. Alfa, anak angkat Ummi sekaligus penasehat keuangan, juga turut serta. Alfa tidaklah asing bagiku. Kami pernah sama-sama mengambil kursus Bahasa Arab bertahun lalu sebelum aku menetap bersama Ummi. Bukan sekali dua kali ini saja Ummi menjodohkan kami. Tapi, semalam, rasanya berbeda. Alfa melamarku. Memang tanpa batu safir atau batu tahun kelahiranku. Tapi, itu pun sudah demikian memaksa untukku berpikir. Belum lagi paginya, Ummi mengingatkanku akan satu hal yang seringnya kuabaikan. Tahun terus berganti, aku tidak mungkin selamanya merasa sakit, tapi bila hatiku tidak pernah kubuka, sampai kapanpun kecewa itu akan sulit pergi.

Alfa sudah menunggu jawabanku bukan setahun dua tahun. Dari sejak aku datang untuk umrah, dia juga menjadi teman sekaligus guruku. Dan, tadi malam, dia benar-benar sampai pada puncaknya. Sesungguhnya bukan dia yang memaksa, tapi perasaankulah. Aku ingin melupakan Torsten. Aku harus. Sudah terlalu lama dan lihatlah, Torsten tidak pernah mencariku selama 8 tahun ini. Pasti dia sudah bahagia dan apakah yang lagi kutunggu? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, bukannya semakin memantapkanku, tetapi justru membuat semakin gelisah. Sesungguhnya aku menunggu isyarat untuk benar-benar mantap melupakan Torsten.

Dentingan koin yang jatuh di lantai ruangan membuat beberapa pengunjung menoleh ke arahku. Sepasang mata tersenyum kepadaku, aku membalas, lalu keluar kafe, kembali ke jalan. Tiba-tiba aku merasa bahuku disentuh seseorang dari belakang. Aku menoleh. Perempuan dengan sepasang mata yang tersenyum itu. Dia Katja, aku hampir tidak mengenalinya dengan pakaian yang sangat tertutup, mirip misionaris. 

“Aku sedang belajar di salah satu kampus di sini. Belajar agama. Sesuatu yang telah lama aku tinggalkan.” Katanya sambil menatap lembut. Senyumnya dengan tulus mengembang. Aku ingat pernah bertemu dengannya sekali. Ketika itu, dia memohon aku melepaskan Torsten. Dia tengah mengandung, wajahnya pucat pasi, rambut coklatnya yang berombak terhampar begitu saja. Dia terlihat kacau. Jauh berbeda dengan yang kulihat hari ini. Dia tenang dan kelihatan bijaksana. Meski dia mengakui hanya mahasiswa, tapi aku yakin dia mengerjakan banyak hal hingga memiliki kepribadian seperti itu.

“Kamu berubah banyak...” Kataku. Senyumnya semakin lebar. “Kamu juga...” Balasnya dan tiba-tiba saja kami tertawa penuh kaku. Torsten, aku bertanya-tanya di dalam hati. Apakah dia juga di sini? Seketika rasa kangen memburu masuk, menggantikan oksigen di sekeliling kami. Apakah Torsten yang muslim telah kembali menjadi katolik? Di mana anak mereka? Anak yang akhirnya menjadi pemisah untuk aku dan Torsten sekaligus membawa Katja kembali pada orang dengan menyisakan kecewa panjang di hatiku.

Aku tertunduk dan menyeringai. Entahlah, aku begitu ingin tahu tentang Torsten, tapi setelah bertemu wanita ini, kurasa aku tidak begitu antusias lagi. Lembaran-lembaran pahit terbuka satu persatu.

“Maaf, aku tidak seharusnya memakai alasan apapun untuk memisahkan kalian.” Ucapnya tiba-tiba. Teratur dan perlahan. Aku menatapnya, dan dia mulai sibuk mencari tisu. Mengusap-usap matanya.

“Sudah selama ini, tapi rasanya masih seperti kemarin... ” Isaknya, diam sejenak, dan pura-pura tersenyum, menenangkan perasaan. Aku diam membeku. Tak yakin akankah air mataku mengalir bergabung dengannya.

“Aku tidak ingin tahu apapun tentang Torsten lagi. Sudah lama aku membuangnya jauh-jauh... ” Kataku datar. Pandangannya sibuk mengaduk-aduk isi kepala dan perasaanku. Dia seperti tahu aku menyembunyikan sesuatu. Perasaanku yang sebenarnya.

“Kami sudah berpisah, Zuhra. Apakah itu tidak berarti sesuatu untukmu?” Ucapnya pendek. Lalu matanya semakin dalam menembus benakku. Aku sangat tersinggung. Apakah maksudnya, setelah Torsten mengkhianatiku, lalu mengambilnya, dan sekarang, setelah penyiksaan bertahun-tahun ini, dia ingin mengembalikan Torsten padaku?

“Torsten hanya masa lalu. Aku akan menikah... ”Kataku. Tiba-tiba aku sangat yakin dengan keputusan mendadak itu. Ya, aku ingin melupakan Torsten selamanya. Aku akan menuruti keinginan Ummi dan Alfa yang telah bersabar kepadaku selama ini. Tatapan Katja bergantian antara percaya dan tak percaya.

“Ohya, apa kabar anakmu? Dia laki-laki atau perempuan?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan. Aku pikir, aku siap untuk berdamai, dan anak itu juga bukan musuhku.

Air muka Katja berubah lebih keruh. Dia tersenyum dengan janggal, menahan butiran-butiran baru dari matanya yang siap meluncur.

“Saat tahu aku hamil, semuanya sudah terlambat. Butuh waktu untuk berani bicara pada Torsten. Aku depresi dan melakukan hal-hal buruk terhadap bayiku. Dia lahir prematur hanya beberapa bulan setelah kami menikah. Dan bertahan hanya beberapa jam karena kelainan jantung dan masalah medis lainnya.” Isaknya. Aku terperangah. Dadaku terasa berat. Aku terhenyak. “Aku dan Torsten berpisah tidak lama setelah itu. Cobaan itu terlalu berat. Rasanya seperti sebuah hukuman.” Sambungnya setelah menenangkan diri.

“Aku minta maaf padamu Zuhra. Aku berusaha menemuimu beberapa kali. Tapi kau sudah tidak lagi di Bonn. Tapi, aku senang kau sekarang akan menikah. Aku mendoakan kebahagiaanmu.” Katja tulus mengucapkannya dalam pandangannya yang tak dapat kumaknai. Kami berpisah di depan hotel. Aku melihatnya berjalan menjauh dengan perasaan yang semakin sulit kujelaskan. Tapi, inilah jawaban atas pertanyaanku selama ini, bukan? Lalu mengapa aku justru menjadi semakin gelisah?

***

Acara makan malam keluarga berjalan lancar. Karena keluarga angkatku berangkat ke Mekah untuk Umrah, lamaran pun diputuskan untuk dilaksanakan di rumah sekaligus kantor Ummi. Seluruh famili Ummi yang ada di Mekah dan sekitarnya berkumpul malam ini. Anak-anak dengan gembira berlarian kesana kemari di antara gelak tawa para orang tua dan remaja. Malam ini, aku bertunangan dengan Alfa.

Kami menjauh ke ruang tengah, duduk-duduk di sofa yang berhadapan dengan televisi. Alfa terlihat lebih ceria dari biasanya. Pakaiannya lebih santai berwarna gading. Mekah sedang tidak begitu panas. Semua terasa sempurna. Kami bicara hal-hal ringan dan sekali-sekali tertawa renyah. Alfa membuatku merasa nyaman dan aku baru menyadarinya. Meski orang tua akan berkata berlainan, tapi kami sudah memutuskan tanggal pernikahan. Usai musim Haji. Kantor pasti tidak akan seramai ini dan kami bisa berkeliling ke beberapa negara untuk bulan madu, seperti yang Ummi rencanakan.

Sejak aku tinggal di rumah Ummi, Alfa menempati kantor di lantai bawah. Dia mengubahnya menjadi tempat tinggalnya juga. Jadi, malam itu, akulah yang mengantar Alfa ke kantor, sekalian ingin mengambil beberapa surat. Di meja, aku melihat tumpukan bill. Di sudut lain meja, aku melihat selembar kartu pos berstempel Vatikan. “Sudah berapa lama ini ada di sini?” Tanyaku pada Alfa yang sibuk membereskan meja kerjanya. Dia menoleh, “Kurasa beberapa minggu sejak kita kembali dari Vatikan. Ummi pernah bertanya, kupikir kamu tahu. Tulisannya berbahasa Jerman jadi kubiarkan saja di sana. Apa kamu belum baca?” Tanyanya. Aku menggeleng.

Liebe Zuhra,

Tahun-tahun berat sudah berlalu. Itu yang aku rasakan sejak bertemu denganmu. Aku berharap kau pun merasakan hal yang sama...

Zuhra, aku senang sekali mendengar kabar kamu akan menikah. Semua orang layak mendapatkan kebahagiaan...

Tapi, sebenarnya, saat pertemuan kita kemarin, aku belum mengatakan semuanya. Beberapa tahun lalu, aku bertemu Torsten di sebuah seminar. Dia mewakili sekolahnya. Aku hampir tidak mengenalinya. Sekarang dia muslim sejati. Dia menjadi salah satu pengelola sekolah Islam di Bonn. Ya, Bonn. Ternyata, setelah perceraian itu, dia kembali ke sana. Mungkin, kami sama-sama mencarimu, Zuhra.. mencoba melepaskan diri dari rasa bersalah dan penyesalan. Apakah kau tidak ingin tahu yang sesungguhnya? Menemukan jawabannya di sana? Di Bonn?

Sekali lagi, aku minta maaf... meski aku bisa melihat jawabanmu di pertemuan kita yang pertama dan kuharap bukan yang terakhir itu.

Aku mendoakan kebahagiaanmu..
.....

Tubuhku gemetar menahan pikiran yang berkecamuk. Alfa menangkap isyarat kebingungan itu dan bertanya berkali-kali, berharap aku menemukan kesadaranku. Kemana perginya kepercayaan diriku saat mengatakan aku sudah melupakannya dan akan memulai hidupku yang baru dan penuh kebahagiaan tanpa dia?  “Bolehkah aku cuti beberapa hari?” Tanyaku terbata. Alfa menatap bingung. “Ada berita apa di kartu itu?” Tanyanya sebelum membalas pertanyaanku. “Sangat penting,” jawabku singkat dan Alfa tahu aku takkan meneruskan kalimatku lebih panjang lagi.

***

Aku tiba di Bonn. Kota itu baru saja berpisah dari salju. Musim semi yang hangat menyapaku ketika aku melangkah turun dari Taksi di depan sebuah sekolah Islam yang sebelumnya tidak ada ketika aku masih di sini. Dengan berdebar aku bertanya tentang Torsten. Sebuah pertanyaan yang bodoh, karena aku tahu dia sudah mengubah namanya. Setelah menunggu beberapa lama, seseorang dengan jubah berwarna putih, bertubuh tinggi dengan sorban menghampiriku. Aku terpana. Sekilas sadar, orang ini bukan Torsten meski sudah berhasil membuat jantungku melompat keluar.

“Aku dan Torsten pengajar dan pengelola di sini. Beliau keluar sebentar. Ingin tunggu saja?” Laki-laki itu berkata ramah. “Oh, saya ke musolla saja, belum sholat dhuhur.” Jawabku.
 
Aku tidak dapat membayangkan lebih jauh lagi bagaimana akan melihat Torsten. Berada di musolla yang lengang. Waktu sholat dhuhur sudah berlalu beberapa lama. Aku berwudhu. Menyentuhkan air ke mukaku yang tiba-tiba berembun. Aku sudah kembali begitu jauh dan bukannya bertambah tenang, justru merasakan dadaku semakin sesak. Aku mengisak. Tak tahan, lututku menjatuhkan diri ke lantai. Tidak ada seorang pun di dekatku hingga aku merasa bebas bersuara pelan dan berat. Memecahkan tangisku yang telah lama tidak pernah aku lakukan lagi. Aku beristigfar terus menerus. Menekan-nekan dada kiriku yang terasa demikian sakit. Berkali-kali menyebut nama Tuhan, menenangkan hati dan pikiranku. Pakaianku basah oleh air wudhuk dari kran yang kubiarkan menyala. Tangisku larut dalam suara jatuhan air yang membasahi lantai.

“Anda tidak apa-apa? Apa yang terjadi?” Suara itu bergema di telingaku. Kusembunyikan mukaku dan menoleh ke arah berlawanan darinya.

“Anda bisa berdiri?” Tanyanya lagi, dan mataku yang basah kututupi dengan selendang. Aku berdiri dengan susah payah dan berhasil menyejajarkan diri dengannya. Dan, aku begitu kaget hingga melepaskan kembali selendang dari mukaku. Torsten. Aku melihatnya. Tepat di hadapanku. Dia pun tidak kalah terkejut melihatku.

“Zuhra?”Torsten terperanjat. Aku menatapnya lekat-lekat dari balik selendang yang seolah menjadi tamengku. Air mataku jatuh satu persatu, enggan berhenti. Selanjutnya yang terjadi, dia menungguku sholat, duduk di tangga musolla, membelakangiku.

Kuhampiri dia. Sambil mendongakkan kepala, dipandanginya aku. Wajahnya begitu bersih, rambutnya tidak lagi setengkuk, dipotong pendek dan rapi. Air mukanya jernih meski ditemani jambang dan janggut tipis. Pakaiannya berwarna putih dari katun yang nyaman. Aku tak mampu berkata apapun, air mataku saja yang berbulir-bulir kembali jatuh mengalir.

Seandainya kami di delapan tahun lalu, dia pasti sudah memelukku. Tapi, Torsten dan aku telah berbeda. Pengalaman masa lalu dan cerita setelah itu membuat suasana begitu kikuk, kaku, tak terkatakan, tak terjelaskan. Tak ada tangan yang saling menyentuh, tak ada tegur sapa yang mewakili segala gusar dan tanda tanya. Kami hanya mampu diam, duduk bersebelahan, dan kembali hening.

***

Hampir satu minggu di Bonn. Aku tidak kemana-mana. Di apartemen sewaan mengurung diri. Setiap hari, Torsten mendatangiku. Meletakkan makan pagiku, roti dengan nuttela di depan pintu. Berhari-hari dia bersabar menungguku membuka pintu di setiap sore pulang dari sekolah. Hari itu, Torsten tidak lagi sabar menunggu. Aku melihatnya dari balik jendela. Biasanya setelah tahu yang menekan bel adalah dia, aku akan pergi dan berpura-pura sibuk. Tapi hari itu, aku bertahan di depan jendela kaca, memandangnya. Matanya menembus semua cerita yang lalu lalang di pikiranku, dan pikirannya. Didekatinya jendela seketika yang membuatku reflek melangkah menjauh. “Buka pintunya... ”Ucapnya memohon. Dan sore itu, kukabulkan permintaannya. Membuka pintu apartemenku. Dan membuka pintu hatiku, untuk mendengarnya.

 “Apa yang harus aku lakukan untukmu memaafkanku?” Tanyanya.

“Aku sudah memaafkanmu” Jawabku gemetar.

“Tapi kenapa masih ingin menikah dengan orang lain?”

“Kamu yang tinggalkan aku Torsten!” Kataku marah.

“Maafkan aku,”pintanya lagi.

“Rasa bersalahmulah yang harus mengampunimu!”

Aku terduduk lemah di kursi. Tak kusangka, laki-laki ini berjongkok di hadapanku. Membuatku begitu kikuk, tak tahu haruskan bangkit agar dia juga ikut berdiri. Tapi ditahannya tanganku, membuatku kembali terpaku.

“Andai aku tahu, kamu di mana, sudah aku temui kamu bertahun lalu, andai aku tahu... Sudah aku...., Ya Allah..,”Torsten mengiba. Duduk di lantai memegangi kepalanya. Aku terhenyak. “Dan, Katja mengemailku tadi pagi, kamu akan menikah. Benarkah semua itu?”Tatapannya menusuk. “Bagaimana caranya, kumaafkan diriku, kalau harus membiarkanmu pergi sekali ini lagi?”Tanyanya padaku. Memaksaku membuang pandang dan menangis. “Takkan kubiarkan kamu pergi lagi, tidak akan lagi,”Ucapnya. Tolong cintai aku sekali lagi. Sekali ini saja....., Zuhraku..”Bibirnya bergetar menyebut namaku, panggilan sayangnya untukku, membuat pandangku semakin berkabut menatapnya. “Beri aku waktu....  meiner Torsten....,”Kataku tak terduga, Torsten menatapku semakin dalam.

***

Langit Bonn begitu cerah hari itu. Burung-burung kecil masih bertengger meski dingin sore mulai merayap. Koper-koper kecilku berdiri tegak di depan pintu apartemen, menunggu giliran masuk ke dalam bagasi. Kupandangi apartemenku sekali lagi dari balik jendela taxi. Akhirnya tiba waktuku meninggalkan tempat bertapaku. Untuk ke sekian kalinya, ponselku berdering. Alfa memanggil. Aku diam. Supir taxi masih sibuk menyusun barang di bagasi. Apa yang harus kukatakan pada Ummi? Dan khususnya, Alfa? Taxi mulai berjalan pelan menuju tikungan, jendelanya masih terbuka sebagian, “Frankfurt Airport, Pak” Suara Torsten memberi aba-aba. “Pesawat Pukul 7, jangan terlambat ya,”Sambungnya penuh semangat. Aku memaling padanya. Senyumnya menyapa wajahku. Kubalas dan menunduk. Mengulum senyumku yang sesungguhnya ingin meluap begitu saja. Ponselku berbunyi sekali lagi. Alfa. Aku diam dalam keraguan. Tangan Torsten mengulur. Menyambut ponselku. Dibalasnya keberatanku dengan senyum. “Biarkan aku yang angkat ya?” Tanpa menunggu aku m
engangguk, Torsten sudah bicara. Kutahan debuman jantungku, mencoba menahan keinginan untuk curi dengar kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya. “Zuhra pulang hari ini, dia pulang bersamaku, Torsten, semua akan kami jelaskan setiba di sana. Terima kasih pengertiannya”

Kuremas ujung jilbabku dengan gelisah. “Tenanglah, aku akan temani kamu melewati ini. Tenanglah, Zuhraku... ,”Bisik Torsten di telingaku. Perasaanku menyeruak tenang. Sore itu, tak ada yang tersisa di langit Bonn. Sudah kupetik semua yang pernah tinggal. Kugenggam, kuat dan erat.

2 Maret 2013Untukmu, inspirasiku..Siswani Sari.Revisi 14 Oktober 2016



KESIMPULAN REPARASI CERPEN BERDASARKAN POIN DISKUSI

1.    EBI

-    “Machitto, kesukaanmu”Kucoba --> kurang tanda titik untuk akhir kalimat pembicaraan.

-    “Kenapa kau seperti orang yang baru melihat setan?” Tanyaku -->  huruf T kata 'Tanyaku' bisa diganti huruf kecil.

-    “Zuhra..... Thanks God! (dalam bahasa jerman),” teriaknya  --> sebaiknya ditulis dalam bahasa jerman lalu diberi catatan kaki atau tetap ditulis dalam bahasa inggris tanpa diberi keterangan dalam bahasa jerman karena kata ‘Thanks God’ sudah  menjadi bahasa umum yang sering didengar.

-    Setelah dialog "... menyembuhkan," kataku semakin gusar. --> Bagusnya titiknya diganti koma karena "kataku ..." masih satu kalimat dengan dialog.

-    Pada kalimat 'sudah akan putus asa' apakah tidak lebih enak 'hampir putus asa'? Lalu gelasnya dan gelasku sendiri, bagaimana kalau 'gelas kami'

-    Di setiap paragraf yang saya baca, kata aku, -ku, ku- banyak juga, ya. Bisa dikurangi.

-    Penzina itu yang bener penzina atau pezina?

-    Nafas ----> napas

2.    Tema

Temanya menarik. Fresh. Sebab masih jarang menemukan tema seperti yang diangkat oleh penulis. Dan dari cerita di atas (setelah membaca secara keseluruhan) tema tersebut cocok dibuat novel.

3.    Setting

-    Penggunaan setting luar negeri gagal total, sebab jikapun settingnya diganti Bekasi atau Gunung Kidul sama sekali gak mengubah cerita.

-    Setting yang baik adalah setting yang menjadi bagian dari cerita. Ketika setting diganti dan sama sekali gak mengubah cerita, itu artinya setting HANYA tempelan.

4.    Alur

Alurnya maju. Tidak terlalu susah untuk dinikmati. Sehingga tinggal mengikuti aliran dari alurnya saja.

5.    Karakter

-    Karakternya kurang kuat. Emosi Zuhra yang sedih, marah, merasa dikhianati, masih ingin kembali dengan Torton agak flat. Tapi unggulnya karena tertutupi bahasa yang indah.

-    Karakter Torton terlalu sedikit diceritakan. Karena ini genrenya roman sebaiknya tokoh pria dan wanita lebih diexplore. Bagian cerita Gustav yang tidak terlalu penting sebaiknya dihilangkan, porsinya diganti dengan cerita antara Zuhra dan Torton yang menguatkan cerita. Something special yang membuat pembaca greget karena sepasang tokohnya saling mencintai karena suatu moment dan layak bersatu kembali. Sekedar saran.

6.    Gaya penulisan

Cara bertuturnya bagus. Ini harus dipertahankan.

7.    Genre

Relig, Romance. Cerita bernuansa religi yang tidak menggurui dan tidak sok suci. Cerpen ini menggambarkan bahwa tokoh bisa saja berbuat khilaf seperti manusia di kehidupan nyata.

8.    Hal-hal yang disukai

-    Gaya penuturan yang luwes.

-    Pemilihan kata yang artistik seperti : "Jangan membenci satu kota karena satu orang yang dibenci."

9.    Saran

-    Kalimat di opening terlalu panjang. Bisa lebih dipersingkat, namun tetap tidak mengubah isi.

-    Penjelasan di dalam kurung sebaiknya di hapus dan gunakan bahasa asingnya saja. Nanti bisa ditambahkan catatan kaki.

-    Gustav duduk di depanku dengan secangkir kopi (khas arab saudi?). Dikalimat ini, kata yang di dalam kurung sebaiknya dicari nama kopi atau minuman khas Arab Saudi agar tidak terkesan nanggung.

-    Selepas adegan Zuhra bertemu Gustav, penulis menceritakan kisah Zuhra selepas ditinggal Torsten. Agak boring dan melelahkan membacanya, mungkin bisa diselipi dialog, bukan deskripsi panjang, rasanya tidak akan seboring itu.

-    Waktu tahu Zuhra menguasai 7 bahasa, kan tidak termasuk bahasa Arab sebaiknya diberi kalimat penjelas tentang mengapa Zuhra harus kursus bahasa Arab.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar