Home » , , » Kelas Ceria Edisi 1: AKU DAN TEMAN-TEMAN

Kelas Ceria Edisi 1: AKU DAN TEMAN-TEMAN

Written By Lalu Razieb Ariaharfi on Selasa, 15 November 2016 | 20.59

 Gambar Cerita Anak
Oleh: Mu'uy Ciek Laey


Di siang yang cerah. Aku menyusuri sungai di dekat rumahku. Suara gemercik air membuatku senang. Aku melihat pohon-pohon tinggi tumbuh di seberang sungai. Embusan angin menggoyang pepohonan itu. Daun-daun seakan sedang menari-nari. Mungkin, jika aku tahu apa yang pohon-pohon itu lakukan, mungkin mereka sedang melambai-lambai ke arahku.1  Aku jadi ingin ke sana. Udara di sana pasti sejuk.

Aku berjalan mendekati tepian sungai. Kulihat batu-batu tersusun tak beraturan. Ada yang tenggelam ada yang tidak. Arus tak begitu deras. Aku pasti  bisa menyebrangi sungai ini lewat batu-batuan itu. Semoga tidak terpeleset.

Aku melompat dari satu batu ke batu yang lain. Tepat di tengah sungai, aku sejenak berhenti. Batu berikutnya  yang akan aku lewati, tergenang air. Jika aku melompat, aku bisa terpeleset dan jatuh. Dan jika tidak jatuh, pasti celanaku akan sedikit basah.

Apa yang harus aku lakukan kawan? Ya, sebaiknya aku melompat saja. Aku ingin segera sampai di sana.

"Biyuuur!!!"

Astaga, ternyata genangan airnya cukup dalam. Aku pikir batu itu terendap tak begitu dalam. Aku segera mendekati batu berikutnya yang tak terendam air. Bukan hanya celanaku yang basah tapi juga bajuku. Ya, sudahlah. Aku melewati batu-batu berikutnya dengan mudah dan akhirnya sampai di seberang sungai.

Aku kembali melihat pohon-pohon itu. Dibawahnya tumbuh rumput-rumput yang menghijau. Rumput-rumput itu ada yang tinggi dan ada yang rendah. Ada yang setinggi pinggangku dan ada yang setinggi lututku. Aku melihat ada jalan setapak di antara rumput-rumput itu. Jalan itu pasti menuju pohon-pohon itu.

Tak lama setelah aku melewati jalan setapak itu, kudengar sayup-sayup suara anak-anak seusiaku. Aku segera berlari mendekati suara itu. Dari kejauhan aku melihat ada beberapa orang anak. Sepertinya  ada empat orang anak.  Mereka sedang membuat rumah-rumahan. Rumah-rumahan itu terbuat dari kayu-kayu yang diikat ke pohon-pohon. Dindingnya ditutup daun-daun yang masih berlubang. Atapnya terbuat dari daun  pisang yang masih basah. Agar terlihat unik, mereka menaburkan daun-daun kering, seperti daun pohon kopi ke atasnya. Aku ingin segera bergabung dan bermain rumah-rumahan bersama mereka.

Saat aku mulai dekat dan mereka mulai menyadari keberadaanku, mereka tiba-tiba lari. Aku tak mengerti mengapa mereka lari. Namun ucapan mereka membuat sakit hatiku.

"Enggak punya teman! Enggak punya teman!" mereka menyorakiku.

Aku segera mencari batu kecil di sekitarku. Kudapati batu sebesar genggaman tanganku. Aku segera memungutnya. Menyadari aku memegang batu,  mereka langsung berlari. Dan aku langsung melempar mereka dengan batu yang kupegang. Sayang, lemparanku meleset. Padahal aku berharap salah satu dari mereka ada yang terkena kepalanya. Biar benjol kepalanya!2
Mereka lenyap dari pandanganku. Aku berjalan mendekati rumah-rumahan yang mereka buat. Sebetulnya ini tidak cocok bila disebut rumah-rumahan. Lebih cocoknya disebut gubuk. Tapi gubukpun3  kurang cocok menurutku. Tapi anak-anak di sini lebih suka menyebutnya rumah-rumahan.

"Braak!"

Aku menendang penyangga rumah-rumahan itu. Aku kesal dengan mereka. Sebaiknya kuhancurkan saja rumah-rumahan ini. Aku menendang rumah-rumahan itu beberapa kali. Belum runtuh rumah-rumahan itu, napasku sudah terempas-empas dan dadaku mulai panas. Aku letih, aku ingin istirahat.

Aku duduk di dalam rumah-rumahan yang agak sedikit doyong karena kutendang tadi. Kuperhatikan ke sekeliling ruangan kecil itu. Sebagian dinding menempel pada sebuah pohon. Aku keluar dan melihat pohon itu. Ternyata pohon itu yang tadi aku lihat dari sebrang4  sungai. Udara di sini memang sejuk. Nyaman sekali bersantai di bawah pohon yang rindang ini. Tapi kejadian tadi membuat suasana jadi panas!5

Kusandarkan badanku di pohon besar itu. Kutarik dan kukeluarkan napasku perlahan-lahan. Kunikmati sedetik waktu yang kupunya. Kupejamkan mataku sambil menikmati semilir angin yang berlalu-lalang membelaiku. Aku kemudian teringat dengan teman-temanku6  dan aku mulai berfikir kenapa mereka menjauhiku dan tak mau berteman denganku. Salaha7  apakah aku?

"Woi! Bangun!"

Kubuka mataku. Kudapati teman-temanku ada dihadapanku. Tapi ada yang aneh. Tadi jumlah mereka ada empat orang dan sekarang menjadi delapan orang. Salah satu dari mereka berbadan besar. Maksudnya badannya lebih besar dari badanku dan yang lain sama besar dan ada yang lebih kecil. Tapi aku tidak takut dengan mereka.

"Ngapain kamu di sini!? Pergi! Pergi! Ini rumah-rumahan kami!" teriak bocah berbadan besar itu dengan suara kasar.

Aku berdiri dan melotot ke arah mereka. Sepertinya mereka ngajak berantem.

"Terus masalah buat kamu?" tanyaku sambeil8  melotot.

"Berani kamu sama saya!?" kata anak berbadan besar, matanya juga melotot.

"Terus mau kamu apa!?"

"Hajar aja dia, Gendoleng! Entar kalo kamu kalah kita bantuin!" salah seorang anak menyulut peperangan.

"Denger semua! Budi,"  kataku sambil menunjuk diri sendiri. "Tidak takut sama kalian. Kalo kalian berani, maju satu persatu. Jangan beraninya keroyokan.9
"Denger semua! Budi,"  kataku sambil menunjuk diri sendiri. "Tidak takut sama kalian. Kalo kalian berani, maju satu persatu. Jangan beraninya keroyokan!"

"Gak usah banyak bacot!" Gendoleng mendekatiku.

Aku melihat kedua tangannya mebentuk10  bulatan tinju. Dia pasti akan meninjuku.

"Wuuss!!!"

Seperti yang kuduga, tinjunya melesat ke wajahku. Aku segera menghindar dan mencari posisi yang lebih luas untuk bergerang.11 Aku berjalan menuju rumput-rumput yang cukup tinggi. Agar saat jatuh tidak terlalu sakit. Gendolang berlari mengejarku. Kali ini dia melompat dan menendangku.

"Buuuk!!"

Tendangannya tepat mengenai perutku. Aku memekik kesakitan. Kupegang perutku sambil mundur beberapa langkah. Posisi Gendolong setelah menendangku, seperti sedang memeluk bumi. Entah jurus apa yang dipakainya.

"Gendoleng, Gendoleng!" mereka memberi semangat Gendoleng, seakan ini sebuah pertandingan yang harus dia menangkan.

Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Barangkali ada senjata yang bisa kugunakan. Entah itu batu atau kayu-kayu kering.

Belum sempat kudapatkan senjata itu, Gendoleng sudah bangkit dan memasang kuda-kuda untuk segera menyerangku lagi. Mau tak mau aku harus mengeluarkan jurus andalan. Kali ini Gendoleng berlari lagi dan aku juga berlari. Gendoleng mendang dan aku juga menendang. Tendangan kami beradu.

"Buuuk!!"

Dan kami saling terjatuh. Aku segera bangkit dan memukulkan tinjuku. Tapi gendoleng dengan cepat menangkisnya. Mau tidak  mau aku harus memeluk gendoleng agar tidak terkena pukulan. Saat aku berhasil memeluknya dan mengunci kedua tangannya, aku berpikir inilah saat yang tepat untuk mengeluarkan jurus andalan!

"Aaaargh!!!"

Gendoleng menjerit saat aku menggigit telinganya dan dia meronta dengan sekuat tenaga. Dia membalas gigitanku dengan gigitan pula. Dia menggigit dadaku. Aku mengerang!  Kutarik telinganya dan kucakar-cakar wajahnya. Dia meronta dengan sekuat tenaga sehingga kami berguling-guling membuat rumput-rumput di sekitar roboh dan hampir rata.12

Belum puas aku menghajar gendoleng, tiba-tiba ada yang menjewer telingaku. Saat aku melihatnya, aku tak berani melawan. Karena dia adalah....

"Sudah dibilangin jangan nakal! Masih aja nakal!" kata perempuan paruh baya sambil terus menarik telingaku. "Mau jadi apa kamu nanti kalo sudah besar!? Disuruh belajar malah berantem terus!"

"Ampun Mak, ampun!" Aku berusaha melepaskan  tangan emak dari telingaku. Tapi emak  terus menjewerku.

"Budi, janji enggak akan mengulangi lagi, Mak!" Aku mulai merengek karena jeweran Emak begitu keras.

Emak kemudian melepaskan tangannya. Aku bersyukur. Jika aku bisa melihat, mungkin telingaku ini merah sekali. Soalnya aku merasa panas sekali telingaku.

"Sekarang minta maaf sama Gendoleng dan semuanya!"

Emak yang tak tahu akar permasalahan langsung menyuruhku minta maaf. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan kalau aku berantem dengan teman-teman, aku yang selalu salah. Dan mungkin ini juga yang membuatku tidak punya teman. Sehingga saat aku mendekati mereka, mereka selalu menjauhiku. Berantem seperti ini sudah sering aku lakukan. Kadang hanya karena permasalah kecil yang sejujurnya aku yang memulainya.

"Teman-teman, aku minta maaf. Lain kali kita lanjutkan lagi!" kataku berani.

"Aaargh! Ampun, Mak! Ampuun!" Emak menjewerku lagi.

"Minta maaf yang bener!" Emak memutar telingaku semakin keras! "Cepat!"

"Iya, Mak! Tapi lepasin." Kataku sambil meringis kesakitan.

"Teman-teman. Aku minta maaf. Semoga kalian mau jadi temenku. Apa kalian mau!?" Aku sedikit berteriak.

"Enggaaak!" Jawab mereka kompak.

"Ya, sudah. Aku pamit pulang!"

Aku sudah tahu, pasti mereka tidak mau menjadi temanku. Tapi ya, sudahlah. Ini semua salahku. Yang penting, aku masih punya seorang emak yang menyayangiku. Walau emak suka menjewer telingaku.

Aku melangkahkan kaki meninggalkan mereka. Biarkan Emak yang menjadi temanku.
TAMAT



Catatan (Untuk yang diwarnai merah):
  1. Jika membuat naskah anak, usahakan tidak bermajas-majasan. Saya rasa kalimat ini juga tidak mempunyai peranan penting dalam cerita. Jadi, buang saja.
  2. Ketika menulis cerita anak, usahakan tidak ada kekerasan. Melempar batu termasuk salah satunya😁
  3. Harus ada spasinya → gubuk pun
  4. seberang
  5. Kurangi penggunan tanda seru
  6. Kurangi penggunaan kata “ku”
  7. Typo
  8. Typo
  9. Hapus
  10. Typo
  11.  Arti kata Gerang (KBBI) : bubuk hitam dari arang tempurung dan sebagainya dicampuri minyak untuk menghitamkan gigi. Jadi, saya rasa penggunaannya tidak tepat
  12.  Terlalu sadis untuk anak-anak 😩

Tambahan:
  1. Seperti apa yang sudah saya tulis tadi, dalam cerita anak, kurangi adegan kekerasan. Apa pun itu bentuknya.
  2. Pembuka cerita si tokoh penasaran dengan pohon. Kamu belum menyebutkan apa yang membuatnya begitu penasaran dengan pohon itu. 
  3. Secara keseluruhan, saya kurang menyukai cerita ini. Tidak ada yang pernah salah dengan yang namanya tema, tetapi pengemasannya yang kurang. Semisal: Aku tidak punya teman. Semua anak yang sebaya denganku tidak mau berteman. Aku tidak tahu apa yang telah kuperbuat. Mereka menghindari begitu saja. Bla bla bla (Saran langsung masuk konflik saja dan lebih sederhanakan bahasanya)
  4. Bila diuraikan cerita ini bisa dijadikan dua. Tentang pohon yang membuat penasaran serta anak yang tidak disukai temannya.
  5. Banyaklah membaca cerita anak dan terus berlatihlah.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar